Dorong Efisiensi dan Konektivitas Nasional, Indonesia–Jepang Perkuat Kerja Sama Strategis Logistik
JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan bersama mitra dari Jepang terus memperkuat kolaborasi strategis di sektor logistik melalui penyelenggaraan The 1st Meeting of the Indonesia-Japan Logistics Working Group pada Kamis, (7/6/2026). Forum ini menjadi langkah konkret dalam mendorong sistem logistik yang lebih efisien, terintegrasi, dan berdaya saing global. Pertemuan ini juga merupakan tindak lanjut atas usulan Indonesia yang disampaikan pada Simposium Logistik yang diselenggarakan oleh Japan Transport and Tourism Research Institute (JTTRI) pada September 2025 untuk membentuk forum kerja sama di bidang logistik antara kedua negara.
Dalam sambutan pembukaannya, Deputi Bidang Konektivitas Odo R.M. Manuhutu mengapresiasi Chairman Japan Transport and Tourism Research Institute (JTTRI), Shukuri Masafumi, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya forum ini. Pertemuan ini dinilai sebagai momentum penting untuk memperkuat sinergi bilateral, khususnya dalam pengembangan sistem logistik berbasis multimoda dan digitalisasi.
“Kami menyambut baik komitmen bersama antara Indonesia dan Jepang dalam memperkuat kerja sama strategis di sektor logistik, khususnya dalam mendorong efisiensi dan konektivitas melalui pendekatan multimoda dan digitalisasi,” ujar Deputi Odo.
Ia menegaskan sektor logistik memiliki peran strategis dalam mendukung target pembangunan nasional, termasuk visi Indonesia menjadi lima besar kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2045. Untuk itu, diperlukan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta upaya menurunkan biaya logistik nasional hingga 12,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebagaimana ditargetkan dalam RPJMN 2025–2029.
“Salah satu kunci untuk mencapai target tersebut adalah menghadirkan infrastruktur konektivitas dan sistem logistik yang efisien dan terintegrasi dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote,” lanjutnya.
Saat ini, biaya logistik Indonesia masih berada pada kisaran 14,29% terhadap PDB, yang dipengaruhi oleh berbagai tantangan, antara lain durasi bongkar muat di pelabuhan yang relatif panjang, ketidakefisienan alur logistik, serta belum optimalnya integrasi antarmoda transportasi.
“Kondisi ini berdampak langsung terhadap lead time distribusi dan tingginya biaya logistik nasional. Ketergantungan pada transportasi darat juga menjadi salah satu2 penyebab utama,” jelas Deputi Odo.
Melalui forum ini, Indonesia dan Jepang mendorong penguatan sistem transportasi multimoda sebagai solusi strategis. Integrasi antara moda darat, laut, dan udara, termasuk penguatan konektivitas kereta api menuju pelabuhan, diyakini dapat menekan biaya logistik dan2 meningkatkan efisiensi distribusi barang.
“Penguatan konektivitas kereta api ke pelabuhan dapat menjadi solusi strategis untuk menekan biaya logistik serta mengurangi ketergantungan pada jalur darat,” tambahnya.
Selain itu, kerja sama kedua negara juga diarahkan pada pengembangan teknologi dan digitalisasi logistik, peningkatan kapasitas infrastruktur pelabuhan, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi.
“Kami meyakini forum ini bukan hanya menjadi ruang diskusi, melainkan langkah awal dalam merumuskan solusi konkret yang dapat diimplementasikan secara nyata,” tegas Deputi Odo.
Ke depan, Indonesia–Japan Logistics Working Group diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan dan solusi implementatif yang berkelanjutan, sekaligus berkontribusi dalam memperkuat sistem logistik nasional dan kawasan ASEAN, termasuk dalam mendukung pemerataan pembangunan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
*SP-150/INFRA/HUMAS/V/2026*
#KemenkoInfrastruktur
#KemenkoInfra
#MenkoAHY
#InfrastrukturUntukSemua
#MemperkuatInfrastruktur
#NyamanBersama
*Biro Data, Komunikasi, dan Informasi Publik*
*Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan*
Instagram: @kemenkoinfra
X: @kemenkoinfra
YouTube: @kemenkoinfra
Dalam sambutan pembukaannya, Deputi Bidang Konektivitas Odo R.M. Manuhutu mengapresiasi Chairman Japan Transport and Tourism Research Institute (JTTRI), Shukuri Masafumi, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya forum ini. Pertemuan ini dinilai sebagai momentum penting untuk memperkuat sinergi bilateral, khususnya dalam pengembangan sistem logistik berbasis multimoda dan digitalisasi.
“Kami menyambut baik komitmen bersama antara Indonesia dan Jepang dalam memperkuat kerja sama strategis di sektor logistik, khususnya dalam mendorong efisiensi dan konektivitas melalui pendekatan multimoda dan digitalisasi,” ujar Deputi Odo.
Ia menegaskan sektor logistik memiliki peran strategis dalam mendukung target pembangunan nasional, termasuk visi Indonesia menjadi lima besar kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2045. Untuk itu, diperlukan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta upaya menurunkan biaya logistik nasional hingga 12,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebagaimana ditargetkan dalam RPJMN 2025–2029.
“Salah satu kunci untuk mencapai target tersebut adalah menghadirkan infrastruktur konektivitas dan sistem logistik yang efisien dan terintegrasi dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote,” lanjutnya.
Saat ini, biaya logistik Indonesia masih berada pada kisaran 14,29% terhadap PDB, yang dipengaruhi oleh berbagai tantangan, antara lain durasi bongkar muat di pelabuhan yang relatif panjang, ketidakefisienan alur logistik, serta belum optimalnya integrasi antarmoda transportasi.
“Kondisi ini berdampak langsung terhadap lead time distribusi dan tingginya biaya logistik nasional. Ketergantungan pada transportasi darat juga menjadi salah satu2 penyebab utama,” jelas Deputi Odo.
Melalui forum ini, Indonesia dan Jepang mendorong penguatan sistem transportasi multimoda sebagai solusi strategis. Integrasi antara moda darat, laut, dan udara, termasuk penguatan konektivitas kereta api menuju pelabuhan, diyakini dapat menekan biaya logistik dan2 meningkatkan efisiensi distribusi barang.
“Penguatan konektivitas kereta api ke pelabuhan dapat menjadi solusi strategis untuk menekan biaya logistik serta mengurangi ketergantungan pada jalur darat,” tambahnya.
Selain itu, kerja sama kedua negara juga diarahkan pada pengembangan teknologi dan digitalisasi logistik, peningkatan kapasitas infrastruktur pelabuhan, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi.
“Kami meyakini forum ini bukan hanya menjadi ruang diskusi, melainkan langkah awal dalam merumuskan solusi konkret yang dapat diimplementasikan secara nyata,” tegas Deputi Odo.
Ke depan, Indonesia–Japan Logistics Working Group diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan dan solusi implementatif yang berkelanjutan, sekaligus berkontribusi dalam memperkuat sistem logistik nasional dan kawasan ASEAN, termasuk dalam mendukung pemerataan pembangunan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
*SP-150/INFRA/HUMAS/V/2026*
#KemenkoInfrastruktur
#KemenkoInfra
#MenkoAHY
#InfrastrukturUntukSemua
#MemperkuatInfrastruktur
#NyamanBersama
*Biro Data, Komunikasi, dan Informasi Publik*
*Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan*
Instagram: @kemenkoinfra
X: @kemenkoinfra
YouTube: @kemenkoinfra