Dies Natalis ke-76 UI, Menko AHY Dorong Penguatan SDM dan Riset untuk Pembangunan Nasional Berkelanjutan
JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersiap menghadapi ketidakpastian global dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Di tengah dunia yang semakin dinamis dan penuh disrupsi, peran sivitas akademika dinilai strategis dalam mendukung pemerintah melalui penguatan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi.
Pesan tersebut disampaikan Menko AHY dalam orasi ilmiah yang disampaikan secara video tapping pada peringatan Dies Natalis ke-76 Universitas Indonesia (UI), Selasa (3/2/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Menko AHY menyampaikan apresiasi kepada Universitas Indonesia yang sejak kelahirannya telah menjadi penjaga nalar kritis bangsa dan mercusuar keilmuan. Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran sentral dalam menyiapkan generasi unggul yang mampu menghadapi tantangan global sekaligus berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
Mengangkat tema “Membangun Realistic Optimism dalam Menavigasi Tantangan Zaman dan Ketidakpastian Global”, Menko AHY menjelaskan realistic optimism sebagai pola pikir untuk tetap berpikir positif dan penuh harapan, namun tetap membumi pada realitas yang dihadapi, sehingga tidak terjebak pada optimisme yang naif.
Menurutnya, optimisme realistis penting tidak hanya dalam kehidupan pribadi dan organisasi, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Terlebih ketika dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik, disrupsi sains dan teknologi, perubahan demografi global, perebutan sumber daya alam, hingga ancaman krisis iklim, pemanasan global, dan cuaca ekstrem yang berdampak pada pangan, air, serta keselamatan manusia.
Menko AHY menilai tahun 2026 menjadi periode yang sarat dengan berbagai strategic surprises, ketika negara-negara besar yang selama ini menjadi rujukan demokrasi liberal dan multilateralisme justru mengambil langkah-langkah unilateral yang ekstrem. Dinamika tersebut berpengaruh besar terhadap tatanan politik dan ekonomi internasional, sekaligus menempatkan kawasan Indo-Pasifik sebagai pusat konsentrasi kekuatan global.
Di tengah rivalitas kekuatan besar dan meningkatnya ketidakpastian global, Menko AHY mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap optimistis dan percaya diri. Ia menegaskan Indonesia memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi negara maju, kuat, makmur, berperadaban tinggi, serta hidup damai, adil, dan sejahtera, sehingga mampu dihormati dan disegani dunia.
Menurut Menko AHY, optimisme harus disertai komitmen, kerja keras, disiplin, konsistensi, ketangguhan, serta mental pantang menyerah. Ia menekankan harapan tanpa tindakan hanyalah angan-angan, sementara tindakan tanpa harapan akan berujung pada kelelahan.
Lebih lanjut, Menko AHY menyoroti ketidakpastian global yang membawa dampak serius terhadap kondisi ekonomi dan sosial, termasuk bagi Indonesia, melalui volatilitas harga energi, biaya logistik, arus perdagangan dan investasi, serta gangguan rantai pasok dunia. Namun, sejarah juga menunjukkan setiap krisis besar kerap melahirkan lompatan peradaban bagi bangsa-bangsa yang mampu bangkit dan beradaptasi.
Dalam konteks tersebut, Menko AHY menegaskan kunci daya tahan dan daya saing bangsa terletak pada kualitas sumber daya manusia. Kekayaan sumber daya alam tidak akan memberikan nilai tambah tanpa SDM yang unggul, berpengetahuan, dan berdaya saing.
Sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Menko AHY menekankan pembangunan infrastruktur fisik harus menjadi sarana pendukung untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia dan kesejahteraan rakyat. Infrastruktur diposisikan sebagai enabler untuk membuka akses pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, menurunkan biaya logistik, memperluas kesempatan kerja, serta memastikan pembangunan dirasakan secara adil di seluruh wilayah Indonesia.
“Infrastruktur harus untuk semua, tanpa meninggalkan siapa pun, wilayah mana pun, dan generasi mana pun,” tegasnya.
Menko AHY juga menekankan infrastruktur tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan keberanian manusia yang membangunnya. Ia mencontohkan pengalaman negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, yang transformasi ekonominya bertumpu pada penguatan sains, teknologi, riset, dan pendidikan tinggi secara konsisten.
Pelajaran tersebut, menurut Menko AHY, relevan bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap). Karena itu, penguatan sains dan teknologi perlu menjadi agenda nasional, termasuk peningkatan pendidikan di bidang STEM serta penguatan riset terapan yang selaras dengan kebutuhan industri.
Di sinilah peran universitas menjadi sangat strategis. Menko AHY menilai perguruan tinggi perlu memastikan tridharma pendidikan tinggi—pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—dapat diwujudkan secara utuh dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Secara khusus, Menko AHY menyampaikan apresiasi kepada Universitas Indonesia atas kontribusinya dalam Program Transmigrasi Patriot. Sebanyak 285 guru besar, dosen, mahasiswa, dan alumni UI terlibat dalam ekspedisi riset di 37 kawasan transmigrasi di 22 provinsi, dari Aceh hingga Papua. Kegiatan tersebut dinilai memberikan masukan penting bagi perencanaan pembangunan kawasan yang lebih terintegrasi, membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru, investasi, serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
SP-45/INFRAHUMAS/II/2026
#KemenkoInfrastruktur
#KemenkoInfra
#MenkoAHY
#InfrastrukturUntukSemua
#MemperkuatInfrastruktur
#MembangunEkonomi
Biro Data, Komunikasi, dan Informasi Publik
Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur
dan Pembangunan Kewilayahan
Instagram: @kemenkoinfra
X: @kemenkoinfra
YouTube: @kemenkoinfra
Pesan tersebut disampaikan Menko AHY dalam orasi ilmiah yang disampaikan secara video tapping pada peringatan Dies Natalis ke-76 Universitas Indonesia (UI), Selasa (3/2/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Menko AHY menyampaikan apresiasi kepada Universitas Indonesia yang sejak kelahirannya telah menjadi penjaga nalar kritis bangsa dan mercusuar keilmuan. Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran sentral dalam menyiapkan generasi unggul yang mampu menghadapi tantangan global sekaligus berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
Mengangkat tema “Membangun Realistic Optimism dalam Menavigasi Tantangan Zaman dan Ketidakpastian Global”, Menko AHY menjelaskan realistic optimism sebagai pola pikir untuk tetap berpikir positif dan penuh harapan, namun tetap membumi pada realitas yang dihadapi, sehingga tidak terjebak pada optimisme yang naif.
Menurutnya, optimisme realistis penting tidak hanya dalam kehidupan pribadi dan organisasi, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Terlebih ketika dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik, disrupsi sains dan teknologi, perubahan demografi global, perebutan sumber daya alam, hingga ancaman krisis iklim, pemanasan global, dan cuaca ekstrem yang berdampak pada pangan, air, serta keselamatan manusia.
Menko AHY menilai tahun 2026 menjadi periode yang sarat dengan berbagai strategic surprises, ketika negara-negara besar yang selama ini menjadi rujukan demokrasi liberal dan multilateralisme justru mengambil langkah-langkah unilateral yang ekstrem. Dinamika tersebut berpengaruh besar terhadap tatanan politik dan ekonomi internasional, sekaligus menempatkan kawasan Indo-Pasifik sebagai pusat konsentrasi kekuatan global.
Di tengah rivalitas kekuatan besar dan meningkatnya ketidakpastian global, Menko AHY mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap optimistis dan percaya diri. Ia menegaskan Indonesia memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi negara maju, kuat, makmur, berperadaban tinggi, serta hidup damai, adil, dan sejahtera, sehingga mampu dihormati dan disegani dunia.
Menurut Menko AHY, optimisme harus disertai komitmen, kerja keras, disiplin, konsistensi, ketangguhan, serta mental pantang menyerah. Ia menekankan harapan tanpa tindakan hanyalah angan-angan, sementara tindakan tanpa harapan akan berujung pada kelelahan.
Lebih lanjut, Menko AHY menyoroti ketidakpastian global yang membawa dampak serius terhadap kondisi ekonomi dan sosial, termasuk bagi Indonesia, melalui volatilitas harga energi, biaya logistik, arus perdagangan dan investasi, serta gangguan rantai pasok dunia. Namun, sejarah juga menunjukkan setiap krisis besar kerap melahirkan lompatan peradaban bagi bangsa-bangsa yang mampu bangkit dan beradaptasi.
Dalam konteks tersebut, Menko AHY menegaskan kunci daya tahan dan daya saing bangsa terletak pada kualitas sumber daya manusia. Kekayaan sumber daya alam tidak akan memberikan nilai tambah tanpa SDM yang unggul, berpengetahuan, dan berdaya saing.
Sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Menko AHY menekankan pembangunan infrastruktur fisik harus menjadi sarana pendukung untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia dan kesejahteraan rakyat. Infrastruktur diposisikan sebagai enabler untuk membuka akses pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, menurunkan biaya logistik, memperluas kesempatan kerja, serta memastikan pembangunan dirasakan secara adil di seluruh wilayah Indonesia.
“Infrastruktur harus untuk semua, tanpa meninggalkan siapa pun, wilayah mana pun, dan generasi mana pun,” tegasnya.
Menko AHY juga menekankan infrastruktur tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan keberanian manusia yang membangunnya. Ia mencontohkan pengalaman negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, yang transformasi ekonominya bertumpu pada penguatan sains, teknologi, riset, dan pendidikan tinggi secara konsisten.
Pelajaran tersebut, menurut Menko AHY, relevan bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap). Karena itu, penguatan sains dan teknologi perlu menjadi agenda nasional, termasuk peningkatan pendidikan di bidang STEM serta penguatan riset terapan yang selaras dengan kebutuhan industri.
Di sinilah peran universitas menjadi sangat strategis. Menko AHY menilai perguruan tinggi perlu memastikan tridharma pendidikan tinggi—pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—dapat diwujudkan secara utuh dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Secara khusus, Menko AHY menyampaikan apresiasi kepada Universitas Indonesia atas kontribusinya dalam Program Transmigrasi Patriot. Sebanyak 285 guru besar, dosen, mahasiswa, dan alumni UI terlibat dalam ekspedisi riset di 37 kawasan transmigrasi di 22 provinsi, dari Aceh hingga Papua. Kegiatan tersebut dinilai memberikan masukan penting bagi perencanaan pembangunan kawasan yang lebih terintegrasi, membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru, investasi, serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
SP-45/INFRAHUMAS/II/2026
#KemenkoInfrastruktur
#KemenkoInfra
#MenkoAHY
#InfrastrukturUntukSemua
#MemperkuatInfrastruktur
#MembangunEkonomi
Biro Data, Komunikasi, dan Informasi Publik
Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur
dan Pembangunan Kewilayahan
Instagram: @kemenkoinfra
X: @kemenkoinfra
YouTube: @kemenkoinfra