Menko AHY Dorong Revitalisasi Kawasan Transmigrasi Papua Berbasis Ekonomi Produktif

Menko AHY Dorong Revitalisasi Kawasan Transmigrasi Papua Berbasis Ekonomi Produktif

JAYAPURA - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendorong revitalisasi kawasan transmigrasi di Papua agar tidak hanya berorientasi pada penyediaan tempat tinggal, tetapi berkembang menjadi kawasan yang memiliki ekosistem ekonomi produktif dan berkelanjutan.

Menko AHY mengatakan, kawasan transmigrasi yang telah berusia puluhan tahun harus mendapatkan perhatian, terutama dalam pemenuhan infrastruktur dasar sekaligus penguatan ekonomi masyarakat.

“Paradigma ini yang kita ubah. Dari sekadar memindahkan masyarakat dari Jawa ke luar Jawa, tapi bagaimana membuat masyarakat di kawasan itu hidup tenang, aman, nyaman, dan sejahtera karena punya pekerjaan,” ujar Menko AHY saat berdialog dengan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Jayapura, Kamis (17/9/2026) malam.

Menurut Menko AHY, persoalan pekerjaan menjadi salah satu hal penting yang harus dijawab dalam pembangunan kawasan transmigrasi. Masyarakat membutuhkan pekerjaan yang layak, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga untuk menjaga martabat dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Karena itu, pengembangan ekonomi kawasan harus disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah. Menko AHY menilai tidak semua kawasan transmigrasi harus dikembangkan dengan pola yang sama. Potensi pertanian, perkebunan, UMKM, ekonomi kreatif, pariwisata, peternakan, hingga hilirisasi dapat dikembangkan sesuai karakteristik lokal.

“Tidak semua harus uniform. Ada UMKM yang bisa digerakkan, ada ekonomi kreatif yang bisa dihadirkan, ada pariwisata yang mungkin bisa dikelola. Jadi banyak ragamnya. Hilirisasi juga penting,” kata Menko AHY.

Menko AHY mencontohkan potensi komoditas lokal Papua seperti matoa yang dapat dikembangkan lebih jauh, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar di Papua, tetapi juga dipasarkan ke daerah lain bahkan berpeluang menembus pasar ekspor.

Menurutnya, pengembangan ekonomi kawasan transmigrasi perlu mempertemukan potensi lahan dan sumber daya manusia dengan investasi serta industri sebagai offtaker. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi produsen, tetapi dapat terhubung dengan rantai ekonomi yang lebih besar.

“Kalau ini ketemu, ini dikawinkan antara kekuatannya transmigrasi dan juga kekuatannya industri, mereka juga mencari lahan, mereka mencari pekerja. Kalau itu ketemu, maka bisa berkembang industri yang baik. Atau ekonomi yang skalanya industri,” jelas Menko AHY.

Menko AHY juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap sektor peternakan dan pertanian. Dalam dialog tersebut, salah satu temuan Tim Ekspedisi Patriot menunjukkan adanya disparitas harga nitrogen cair yang digunakan dalam inseminasi buatan, antara wilayah Jawa dan Papua.

“Di Jawa Rp17 ribu per liter, di sini Rp300 ribu. Nolnya saja beda. Nah, ini saya rasa perlu keberpihakan,” ujar Menko AHY.

Lebih lanjut, Menko AHY menyebut pengembangan kawasan transmigrasi harus dilakukan melalui sinergi dan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, perguruan tinggi, dan dunia usaha.

“Kalau kita ingin memastikan masyarakat bisa punya penghasilan, semuanya harus dikawal secara ketat dengan menghadirkan sinergi dan kolaborasi,” tegasnya.

Menko AHY mengapresiasi keberadaan Tim Ekspedisi Patriot 2026 yang menurutnya telah memberikan perspektif langsung mengenai berbagai persoalan dan potensi di kawasan transmigrasi. Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bekal bagi para mahasiswa sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia, khususnya Papua.

SP-330/INFRA/HUMAS/IX/2026

Biro Data, Komunikasi dan Informasi Publik
Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan

#KemenkoInfrastruktur
#KemenkoInfra
#MenkoAHY
#InfrastrukturUntukSemua
#MemperkuatInfrastruktur
#MembangunEkonomi